Fadli Zon Soroti Absennya Jokowi di Tiga Sidang Majelis Umum PBB | RADAR RAKYAT

Fadli Zon Soroti Absennya Jokowi di Tiga Sidang Majelis Umum PBB





Suararakyat - Fadli Zon memandang Kebijakan Luar Negeri Indonesia sepanjang 2017 kurang terarah dan minimalis. Salah satu yang disorotinya adalah absennya Jokowi dalam tiga kali sidang Majelis Umum PBB.


Plt Ketua DPR RI Fadli Zon menyebut pendekatan diplomasi pro-rakyat yang diusung Presiden Jokowi dalam implementasinya justru mempersempit ruang manuver politik luar negeri Indonesia. “Padahal doktrin politik bebas aktif yang tercantum dalam UU 37 tahun 1999, telah membuka ruang gerak yang luas bagi Indonesia dalam membangun hubungan ke luar,” ujarnya melalui pernyataan tertulis, Ahad (31/12/2017).


Fadli juga menyoroti absennya Presiden Jokowi dalam Sidang Majelis Umum PBB tiga kali berturut-turut. Menurutnya diplomasi pro-rakyat yang lebih inward looking atau memprioritaskan dalam negeri, tak bisa dijadikan pembenaran sikap Presiden Jokowi yang selalu absen di Sidang Majelis Umum PBB.


“Kita tahu, Sidang Majelis Umum PBB adalah forum yang sangat ditunggu-tunggu oleh setiap kepala negara di dunia untuk menyampaikan sikap politik luar negeri,” ujar Fadli.


Presiden seharusnya bisa menggunakan momen tersebut sebagai agenda prioritas mewakili Indonesia di Sidang Majelis Umum PBB. Sementara, Indonesia tengah berjuang menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. “Jika Presiden tidak aktif, bagaimana Indonesia diperhitungkan,” imbuhnya.


Fadli pun menilai peran Indonesia di forum-forum multilateral pada krisis Rohingya juga makin pudar. Selama ini peran Indonesia masih normatif, padahal indonesia memiliki modal kepemimpinan alami di ASEAN.


“Seharusnya Indonesia bisa menjadi pionir dan leader yang mendorong isu Rohingya agar disikapi secara kolektif oleh ASEAN. Namun faktanya, pemerintah kita gagal memanfaatkan forum ASEAN tersebut. ASEAN hanya menjadi forum arisan dan dimanfaatkan oleh negara-negara kecil tetangga kita untuk masuk pasar bersama,” ungkap Fadli.


Terkahir, kelemahan kepemimpinan Indonesia di mata internasional juga terlihat dalam penyikapan krisis Yerusalem. Lagi-lagi peran Indonesia dinilai masih normatif.


SUMBER <--------




Subscribe to receive free email updates:

close